Profil

   Tahun 1987 Deddy Baros berangkat ke Melbourne Australia.     Sesampainya disana, dia menyewa  flat yang sederhana. Akhirnya di flat        tersebut dia tinggal dengan seorang Tionghoa asal Shanghai yang kebetulan   adalah seorang Fotografer. Dengan bahasa inggrisnya yang sulit dimengerti    pemuda cina yang biasa dipanggil Chang Yi  itu coba mengajarinya      memotret. Semula Deddy bermaksud sekolah musik, dan sebulan lagi dia     akan mendaftar. Tetapi pendiriannya secara mengejutkan berubah drastis     setelah sering melihat karya foto Chang Yi.

Akhirnya Deddy mendaftar disebuah sekolah fotografi tertua di Melbourne, yaitu Photography Studies College.Tahun 1991 Deddy  pulang ke Jakarta dan melamar disebuah majalah parawisata dan perhotelan. Hanya dalam kurun waktu 10 bulan dia bekerja disitu, dia mendapat kesempatan memotret 10 orang duta besar berikut keluarganya. Termasuk Dubes AS, Italia, China, dan Sovyet. Setelah itu, pada tahun 1992 Deddy bekerja beberapa tahun di majalah ekonomi papan atas. Prinsipnya, bekerja bukan sekedar mencari uang. Benefit paling besar yang dia dapatkan di majalah tersebut adalah ‘digurui’ secara tidak langsung oleh para responden  yang nota bene adalah para ekonom kelas kakap juga para konglomerat yang saat ini sudah ada yang kropos. Saat krisis ekonomi melanda Indonesia (tahun 1998) Deddy  mengajar Fotografi untuk jurusan desain grafis, periklanan dan public relation di Interstudi, LM Patra dan CWT ( Sekolah Cameraman Dan Broadcast). Kadang disela waktunya, Deddy kerap menjadi tamu pembicara Foto Jurnalistik bekerjasama dengan para karyawan senior TVRI.

Tahun 2000 salah seorang kliennya pemilik restoran siap saji Mc Donald menawarinya untuk memotret pernikahan anak sulungnya. Keberhasilannya memotret pernikahan ini sekaligus menjadikannya sebagai forto folio untuk dia bawa melamar sebagai rekanan salah satu gedung pernikahan papan atas di Jakarta. Dan, dengan peralatan fotografi yang sangat sederhana Deddy dibantu para siswanya hanya dalam kurun waktu 6 bulan secara mengejutkan mampu menjadi peringkat Utama digedung ini, menyisihkan para pesaingnya yang nota bene sudah menyandang pengalaman puluhan tahun didunia fotografi wedding. Juga digedung papan atas lainnya, Deddy Baros Photography sering mendapat peringkat pertama. Pada tahun 2007, Deddy  mulai membuka Kursus Fotografi. Beberapa dari siswanya secara meyakinkan mulai mengibarkan benderanya untuk turut berkiprah dalam fotografi wedding. Kini Deddy Baros Photography telah memiliki industri album yang dibuatnya secara artistik. Dan pada bulan Oktober   2009, Deddy

telah memprasastikan pengalaman serta berbagai rahasia tekniknya dalam sebuah buku Fotografi Wedding berjudul "Rahasia Fotografi Pernikahan Tradisional Indonesia / Kiat Sukses Deddy Baros", penulis Eka Alam Sari, Editor Arbain Rambey yang diterbitkan oleh Elex Media/Gramedia sebagai sumbangannya untuk menambah khasanah ilmu dan berbagai teknik pemotretan yang diaplikasikannya melalui pemotretan wedding tradisional yang mengungkap berbagai adat/budaya pernikahan tradisional Indonesia tercinta. Buku ini di launching di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta dengan dihadiri oleh berbagai fotografer Wedding baik dari Jakarta maupun luar kota.